Petualangan Mianka - Chapter 1
Chapter 1
Mianka dan Teman
Berbulu
Satu hari dalam hidup kita pasti
ada waktu dimana kita pengen punya sahabat berbentuk mainan atau hewan kecil
yang manis. Momen itu juga terjadi kepada Mianka. Ia ingin memiliki sahabat
yang benar-benar ia miliki dan percaya kepadanya. Mianka gadis kecil berusia 4
tahun mungkin terlihat seperti gadis biasa, lugu, polos, dan mungkin terihat
bodoh. Mianka ingin memiliki peliharaan tapi apa daya lingkungan tidak
mengijinkan. Ia ingin memiliki sahabat tapi orangtuanya sangat protektif dan
tidak mengijinkan ia keluar rumah. Kedua kakak yang ia miliki pun tidak
membantu Mianka mengatasi keinginannya untuk memiliki binatang peliharaan.
****
Papa dan mama pergi, hari ini
Mianka sendirian di rumah. Ia memang terbiasa ditingal di rumah sendirian,
hanya 30 menit tapi bagi Mianka adalah suatu petualangan baru. Ia bisa keluar
rumah hanya untuk mengejar ayam atau kucing yang berkeliaran di sepanjang gang
atau berada di dalam kamar mandi dan mencampur semua sabun yang ada dan
kemudian membuangnya. Hal itu sangat menyenangkan. Suatu saat kau harus
mencobanya di rumah.
Hari itu Mianka tidak memilih
mencampur sabun dan berlagak seperti ahli kimia di dalam kamar mandi. Ia
memilih untuk pergi ke luar rumah dan mencari kucing untuk ia mainkan. Iya
mainkan, karena bagi MIanka belum ada menyayangi atau memelihara hewan, jadi
setiap bertemu sesuatu pastilah untuk bermain.
Di sebelah rumah Mianka ada
tumpukan ban bekas yang ditaruh oleh tetangganya begitu saja. TIdak jelas untuk
apa namun nyaman untuk ibu kucing menyembunyikan anak-anak yang baru beberapa
hari lahir. Mianka ingat kakaknya mengatakan ada empat anak kucing lucu di
dalam tumpukan ban tersebut. Empat anak kucing lebih dari cukup untuk
menghabiskan tiga puluh menit waktu yang ia punya. Mianka tahu papa dan mama
akan marah jika Mianka ketahuan bermain kucing.
Mianka kemudian keluar rumah dan
menuju ke tumpukan ban bekas tersebut. Ia melangkah cepat karena tidak mau
semenit pun berkurang untuk bermain dengan anak-anak kucing. Sesampainya di depan
tumpukan ban ia mulai melihat ke dalam lubang ban. “Ia mencari dengan seksama.
Kemana anak-anak kucing tersebut?” gumam Mianka dalam hati. Mungkin para anak
kucing tahu Mianka akan ke sana lalu bersembunyi.
“Kucing-kucing…sini…kucing-kucing…” Mianka semakin penasaran. “uuuuggghhh…”,
Mianka mendorong ban paling atas. “Meeoong…meeoong..” kucing-kucing kecil
keluar dari tumpukan ban. Mata para kucing menyipit karena terkena silaunya
cahaya matahari. Mereka sangat lucu. Ada yang berwarna abu-abu bercampur putih,
jingga dan putih, dan yang ketiga berwarna hitam putih. Mianka mulai
menghitung. “Satu, dua, tiga, tapi kenapa hanya ada tiga anak kucing? Dimana
anak kucing yang keempat? Apa kakak berbohong kalau di sini ada empat anak
kucing? Ah sudah lah tiga anak kucing cukup untuk tiga puluh menit,” ucap
Mianka dalam hati.
Mianka kemudian mengangkat kucing
yang pertama. Bulunya lembut dan sangat ringan. Mianka mulai mengelus kepalanya
dan kemudian kucing itu tertunduk tetapi ingin melepaskan diri. Mianka masih
sabar. Ia pikir para kucing ini lapar karena sudah jam sembilan pagi. Mianka
ingat ia biasa sarapan jam tujuh bersama papa, mama dan kedua kakaknya. Mianka
kemudian mengambil roti yang ia simpan di dalam kantongnya. “Ayo makan kucing,”
ia mengarahkan roti tersebut kepada anak kucing pertama. Ada yang aneh. Kucing
ini tidak suka roti. Bagaimana jika diberikan ke kucing kedua? Mianka kemudian
mencoba ke kucing kedua. Kucing kedua juga tidak mau makan roti. Kemudian Mianka
memberikan rotinya kepada kucing ketiga, hasilnya pun sama. “ada apa dengan
kucing-kucing ini? Mengapa mereka sangat sombong? Roti kan sangat enak.” Mianka
tidak tahu kalau anak kucing berumur beberapa hari lebih suka susu ibu kucing
daripada roti. Mianka mulai kesal.
Apa hal terjahat yang bisa
dilakukan anak berusia 4,5 tahun yang bisa kau bayangkan? Pastilah kejahatan
lucu kan? Ah, kita juga terlalu jahat jika menganggap anak kecil berbuat
kejahatan. Mianka hanya berbuat kenakalan, tetapi kenakalan tersebut bisa
dianggap kejahatan bagi kucing-kucing kecil. Apa yang Mianka lakukan kemudian
janganlah kalian tiru karena baik manusia ataupun kucing berhak untuk disayangi
sekalipun mereka tidak mau makan roti yang kalian berikan.
“Krrrttt…krrrttt…” kucing-kucing
kecil itu dipaksa untuk naik di ban paling atas kemudian Mianka menyentil
kucing-kucing tersebut agar jatuh ke bawah. Sontak anak-anak kucing tersebut
mengeluarkan cakarnya dan mencengkram ban agar tidak jatuh. “Dasar
kucing-kucing nakal. Salah sendiri tidak mau makan roti, sekarang kalian harus
merasakan akibatnya hahahahaha…, Ini kan hanya empat tumpuk ban.” Empat tumpuk
ban bagi anak kucing itu sangatlah tinggi. Kucing-kucing tersebut terlihat
sangat takut. Mereka mengeong tapi ibu kucing tidak kunjung datang. Kasian
sekali. MIanka menikmati muka panik yang muncul dari kucing-kucing tersebut.
Jahat? Yah bahkan Mianka tidak
tahu kalau yang ia lakukan adalah kejahatan. Anak ini hanya ingin kesenangan
selama papa dan mama tidak ada di dekatnya. Ia hanya menginginkan sahabat
berbulu lembut dan ringan. Sayang, cara Mianka salah. Mianka masih menikmati
permainan kejamnya.
Tiba-tiba kaki Mianka merasakan
ada bulu-bulu lembut yang menyentuhnya. Lembut dan hangat. Ternyata ada anak
kucing keempat. Iya anak kucing keempat akhirnya muncul dan menyandar ke
kakinya. Anak kucing keempat berwarna abu-abu keseluruhan. “Sangat cantik.”
Gumam Mianka. Kemudian Mianka melihat ada ‘lonceng’ di belakangnya. Oh ternyata
ini kucing laki-laki. Berarti ia tampan. Mianka lebih senang melihat ke kucing
abu-abu ini, kemudian ia mengelus kepala kucing tersebut. Kucing ini penurut
dan menjilati kaki Mianka. Mianka senang karena seperti memiliki sahabat baru.
MIanka kemudian meggaruk perut kucing itu dan kucing itu malah bermain dengan
menggigit lembut jari-jari Mianka. Mianka tertawa. “Kamu yang paling baik dari
yang lain. Halo aku Mianka. Hahahaha iya gelii hahahaha.” Mianka tidak takut
sama sekali.
Tak terasa sudah tiga puluh
menit, Papa sudah pulang ke rumah. Papa pergi sebentar untuk membeli susu
Mianka. Mianka tersenyum saat Papa pulang. Mianka senang karena sudah memiliki
teman berbulu yang sangat diimpikan selama ini.
Comments
Post a Comment