Review Chapter 2 Dualistic Economy by Booke
Significance of Dualistic Economics as a Theoritical Subject
Pertanyaan yang akan muncul saat kita mendengar kata ekonomi dualistis adalah dimanakah teori ini berlaku secara keseluruhan dan masih relevan dengan teori ekonomi biasa serta apakah teori ini dapat diidentikkan dengan teori ekonomi barat? Jawabannya adalah untuk beberapa alasan, tidak. Mengapa? Pada dasarnya teori ekonomi memiliki tiga karakter umum yaitu (a) keinginan tak berbatas pada bagian subjek ekonomi, (b) ekonomi uang menjadi dasar kehidupan subjek ekonomi, dan (c) individualistis menjadi dasar aktifitas mereka. Dengan demikian terjawab bahwa teori ekonomi dualistis masih dapat dikategorikan dalam teori ekonomi biasa karena berhubungan dengan keinginan dan aktifitas uang. Namun, tidak bisa secara harafiah dikaitkan dari sisi individualistis.
Teori ekonomi dualistis tidak dapat dianggap serupa dengan teori ekonomi barat karena memang jauh berbeda dengan teori ekonomi barat. Pada teori ekonomi dualistis, penetrasi teori ekonomi barat memang ada tetapi tidak dapat menggantikan teori ekonomi atau setidaknya sistem ekonomi yang memang sudah ada dalam masyarakat asli. Akhirnya mengakibatkan adanya dua sistem ekonomi yang berada dalam batasan teritori tertentu. Dalam hal ini wilayah Asia menjadi contohnya karena tidak dapat dimasuki secara total oleh teori ekonomi barat.
Dualistik ekonomi akan lebih mudah dipahami melalui beberapa formulasi. Pertama antara desa dan kota. Desa adalah prekapitalistik. Dalam masyarakat dualistik lebih mudah dengan menyebutkan ekonomi desa atau village economy. Desa lebih dianggap sebagai tempat tak tersentuh kapitalisme dan tidak ada pergerakan mengenai kapitalisme tersebut. Sedangkan kota lebih kepada pusat-pusat kekuasaan yang sekaligus terbuka, tidak hanya untuk perdagangan tetapi juga industri.
Antithesis lain yang digunakan untuk mengkarakteristikan dualisme sosial dan ekonomi adalah barat dan timur. Barat tidak bisa dikenakan langsung kepada setiapa elemen yang memang berada di barat, tetapi lebih kepada elemen yang terkena 'westernisasi'. Sebaliknya timur adalah elemen-elemen yang tidak dapat terjamah oleh westernisasi.
Sebuah antitesis lain yang secara jelas tidak dapat dipakai adalah term native-foreign karena lebih mengarah kepada politik dan memiliki tautan dengan 'kolonial'. Foreign adalah element yang imigrasi dan menjadi pengatur; sedangkan native berhubungan secara keseluruhan dengan populasi asli. Jadi jangan mengacaukan dualisme yang dimaksud dengan kolonialisme, karena jelas berada pada titik yang berbeda.
Pertanyaan yang akan muncul saat kita mendengar kata ekonomi dualistis adalah dimanakah teori ini berlaku secara keseluruhan dan masih relevan dengan teori ekonomi biasa serta apakah teori ini dapat diidentikkan dengan teori ekonomi barat? Jawabannya adalah untuk beberapa alasan, tidak. Mengapa? Pada dasarnya teori ekonomi memiliki tiga karakter umum yaitu (a) keinginan tak berbatas pada bagian subjek ekonomi, (b) ekonomi uang menjadi dasar kehidupan subjek ekonomi, dan (c) individualistis menjadi dasar aktifitas mereka. Dengan demikian terjawab bahwa teori ekonomi dualistis masih dapat dikategorikan dalam teori ekonomi biasa karena berhubungan dengan keinginan dan aktifitas uang. Namun, tidak bisa secara harafiah dikaitkan dari sisi individualistis.
Teori ekonomi dualistis tidak dapat dianggap serupa dengan teori ekonomi barat karena memang jauh berbeda dengan teori ekonomi barat. Pada teori ekonomi dualistis, penetrasi teori ekonomi barat memang ada tetapi tidak dapat menggantikan teori ekonomi atau setidaknya sistem ekonomi yang memang sudah ada dalam masyarakat asli. Akhirnya mengakibatkan adanya dua sistem ekonomi yang berada dalam batasan teritori tertentu. Dalam hal ini wilayah Asia menjadi contohnya karena tidak dapat dimasuki secara total oleh teori ekonomi barat.
Dualistik ekonomi akan lebih mudah dipahami melalui beberapa formulasi. Pertama antara desa dan kota. Desa adalah prekapitalistik. Dalam masyarakat dualistik lebih mudah dengan menyebutkan ekonomi desa atau village economy. Desa lebih dianggap sebagai tempat tak tersentuh kapitalisme dan tidak ada pergerakan mengenai kapitalisme tersebut. Sedangkan kota lebih kepada pusat-pusat kekuasaan yang sekaligus terbuka, tidak hanya untuk perdagangan tetapi juga industri.
Antithesis lain yang digunakan untuk mengkarakteristikan dualisme sosial dan ekonomi adalah barat dan timur. Barat tidak bisa dikenakan langsung kepada setiapa elemen yang memang berada di barat, tetapi lebih kepada elemen yang terkena 'westernisasi'. Sebaliknya timur adalah elemen-elemen yang tidak dapat terjamah oleh westernisasi.
Sebuah antitesis lain yang secara jelas tidak dapat dipakai adalah term native-foreign karena lebih mengarah kepada politik dan memiliki tautan dengan 'kolonial'. Foreign adalah element yang imigrasi dan menjadi pengatur; sedangkan native berhubungan secara keseluruhan dengan populasi asli. Jadi jangan mengacaukan dualisme yang dimaksud dengan kolonialisme, karena jelas berada pada titik yang berbeda.
Pada dasarnya ekonomi dualistis yang dimaksudkan oleh H.J Booke menjelaskan penelitian yang ia lakukan di Indonesia pada saat itu. Ia melihat keadaan masyarakat (khususnya Jawa) pada waktu itu yang mulai dimasuki oleh kolonial, dan akhirnya berpengaruh juga pada sistem ekonomi mereka. Untuk mendapatkan keuntungan, jelas tidak bisa menggunakan sistem ekonomi selama ini, dimana mereka menanam hanya untuk keperluan pribadi (prekapitalistik), akhirnya sistem prekapitalistik ini mendapatkan tandingannya yaitu kapitalistik, dimana penimbunan dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Di satu sisi, dengan kondisi penduduk yang semakin banyak,, tentunya banyak kepala keluarga mulai memutar otak bagaimana bisa mendapatkan keuntungan yang lebih, namun disisi lain saat mereka gagal dalam usaha yang bisa menolong mereka hanyalah sistem ekonomi prekapitalistik (saling membantu dan berbagi untuk kebutuhan desa). Untuk itulah Booke mengambil term dualistis untuk mempermudah kita membayangkan kondisi masyarakat pada saat itu.
Refleksi yang bisa kita ambil apakah pada zaman sekarang, masyarakat Indonesia masih mengalami kondisi yang diutarakan Booke tersebut? Jika telah berubah, maka perubahan macam apakah yang terjadi?
--Catatan kuliah Antropologi Indonesia--
Comments
Post a Comment